Esamesta.com – Suhu yang meningkat secara drastis telah menyebabkan kematian hampir 550.000 orang di seluruh dunia setiap tahun. Angka ini merupakan bagian dari jumlah kematian akibat panas yang terus meningkat sebesar lebih dari 20% berdasarkan perhitungan populasi sejak awal 1990-an. Menurut para ahli iklim dan kesehatan dari Universitas Sydney, satu kematian akibat panas terjadi setiap menit sepanjang tahun.
“Angka ini sangat mengejutkan,” ujar salah satu pakar tersebut dalam wawancara dengan Bloomberg pada Kamis (30/10/2025). Laporan tahunan Lancet tentang iklim dan kesehatan menunjukkan peningkatan angka kematian akibat panas di berbagai negara, terutama di tengah rekor suhu yang terjadi di seluruh dunia. Di Eropa, penduduk dan wisatawan musim panas mengalami dampak dari gelombang panas, sementara sebagian wilayah Asia dan Amerika Serikat juga dilanda panas ekstrem.
Laporan tersebut mencerminkan hasil kerja sama dari 128 peneliti di seluruh dunia dan 71 organisasi. Dalam lima tahun terakhir, sebagian besar hari dengan kondisi gelombang panas tidak akan terjadi tanpa adanya perubahan iklim. Kondisi yang lebih panas tidak hanya memengaruhi kesehatan manusia tetapi juga perekonomian. Hilangnya produktivitas tenaga kerja akibat panas menyebabkan kerugian pendapatan sekitar US$1 triliun pada 2024, yang setara dengan hampir 1% dari produk domestik bruto global.
Selain itu, kurang tidur di malam hari akibat suhu tinggi meningkat sebesar 9% pada tahun 2024, menjadi rekor baru. Para ilmuwan khawatir bahwa beberapa bagian dunia sedang mendekati titik kritis fisiologis, yaitu kondisi di mana suhu begitu panas dan lembap sehingga manusia tidak bisa bertahan hidup. Kekhawatiran ini dipicu oleh percepatan perubahan iklim dan bukti baru bahwa risiko serius dapat dimulai pada kondisi yang lebih dingin dan kering daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Di Amerika Latin, kematian akibat panas telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2000, dengan sekitar 13.000 kematian semacam itu terjadi setiap tahun. “Kita berpotensi mencapai batas ini di berbagai belahan dunia dengan kecepatan yang mengkhawatirkan atau mendekatinya. Ini adalah sesuatu yang membutuhkan tindakan segera,” kata Jay, salah satu peneliti.
Direktur Eksekutif Inisiatif Lancet Marina Romanello menjelaskan bahwa para ilmuwan melacak berbagai indikator untuk menilai ancaman kesehatan akibat perubahan iklim. Hal ini termasuk risiko kesehatan terkait cuaca panas dan cuaca ekstrem lainnya serta pengaruh perubahan iklim terhadap penularan penyakit menular.
Sebagian besar indikator kesehatan ini telah mencapai rekor tertinggi sejak mulai dipantau. Paparan partikel kecil yang dilepaskan ke udara akibat kebakaran hutan mencapai titik tertinggi pada 2024, menyebabkan lebih dari 150.000 kematian di seluruh dunia, lebih banyak dari sebelumnya.
Sementara itu, penyakit tropis yang ditularkan nyamuk seperti demam berdarah (dengue) mengalami lonjakan potensi penularan rata-rata di seluruh dunia hampir setengahnya sejak tahun 1950-an karena kondisi yang lebih hangat dan basah memungkinkan serangga tersebut menyebar dan bertahan hidup di lebih banyak tempat.
Ada beberapa temuan yang lebih menjanjikan, termasuk bahwa paparan global terhadap jenis polusi bahan bakar fosil telah menurun hampir 20% selama satu setengah dekade terakhir karena banyak negara maju membakar lebih sedikit batu bara. Namun, secara keseluruhan, temuan ini menyajikan gambaran yang sangat suram. “Kami benar-benar khawatir dari perspektif ilmiah karena kami memiliki datanya dan tidak dapat disangkal betapa gawatnya situasi ini,” ucapnya. (del)







