5 Dampak Berbahaya Menggunakan Ban Tanpa Sertifikasi, Murah Tapi Berisiko Tinggi

Esamesta.com, Otomotif – Harga ban kendaraan sering menjadi pertimbangan utama saat melakukan penggantian, terutama ketika anggaran sedang terbatas. Ban tanpa sertifikasi sering menarik perhatian karena harganya yang lebih murah dibanding produk resmi. Namun, komponen ini memegang peran krusial dalam keselamatan dan kenyamanan berkendara. Meski tampak menguntungkan di awal, penggunaan ban tanpa sertifikasi memiliki risiko yang bisa berdampak besar pada keamanan pengemudi dan penumpang.

Berikut adalah lima risiko utama yang muncul akibat penggunaan ban tanpa sertifikasi:

  • Daya cengkeram rendah di berbagai kondisi jalan

    Ban tanpa sertifikasi umumnya dibuat tanpa standar uji keselamatan yang jelas. Kompon karet yang digunakan sering kali tidak melalui pengujian ketahanan gesek di permukaan kering maupun basah. Akibatnya, daya cengkeram ban terhadap aspal menjadi jauh dari kata optimal.
    Saat melaju di jalan basah atau berpasir, ban jenis ini lebih mudah kehilangan traksi. Kondisi tersebut meningkatkan risiko selip, terutama ketika pengereman mendadak atau saat menikung. Situasi ini membuat pengendalian kendaraan terasa lebih berat dan berbahaya dalam kondisi darurat.

  • Risiko pecah ban lebih tinggi saat kecepatan stabil

    Ban bersertifikasi dirancang untuk menahan tekanan dan panas akibat gesekan dalam waktu lama. Sebaliknya, ban tanpa sertifikasi sering kali tidak memiliki struktur internal yang kuat dan konsisten. Hal ini membuatnya rentan mengalami kerusakan mendadak.
    Pada perjalanan jarak jauh atau saat melaju dengan kecepatan stabil, panas pada ban akan terus meningkat. Jika materialnya tidak tahan panas, risiko pecah ban jadi jauh lebih besar. Dampak ini sangat berbahaya karena sering terjadi tanpa tanda peringatan yang jelas.

  • Umur pakai lebih pendek dan cepat aus

    Salah satu ciri ban tanpa sertifikasi adalah tingkat keausan yang tidak merata. Kualitas material yang rendah membuat tapak ban cepat menipis meski pemakaian belum lama. Hal ini justru membuat pengeluaran jadi lebih sering dalam jangka panjang.
    Ban yang cepat aus juga memengaruhi stabilitas kendaraan. Permukaan yang tidak lagi rata menurunkan kenyamanan dan kontrol saat berkendara. Alih-alih hemat, kondisi ini justru menambah risiko dan biaya tambahan yang tidak disadari sejak awal.

  • Pengaruh buruk terhadap sistem suspensi dan kemudi

    Ban bukan hanya soal tapak dan tekanan angin, tapi juga bagian dari sistem kerja kendaraan secara keseluruhan. Ban tanpa sertifikasi sering memiliki tingkat elastisitas yang tidak seimbang. Getaran dari jalan jadi lebih banyak diteruskan ke suspensi dan kemudi.
    Dalam jangka waktu tertentu, komponen kaki-kaki kendaraan akan menerima beban berlebih. Hal ini mempercepat keausan pada suspensi dan membuat setir terasa kurang presisi. Kenyamanan berkurang dan biaya perawatan pun berpotensi meningkat.

  • Gagal memenuhi standar keselamatan resmi

    Sertifikasi pada ban menunjukkan bahwa produk tersebut telah lolos uji keselamatan tertentu. Ban tanpa sertifikasi berarti tidak ada jaminan lolos uji tekanan, kecepatan, dan daya tahan. Risiko berkendara pun sepenuhnya ditanggung sendiri.
    Di beberapa kondisi tertentu, penggunaan ban tanpa sertifikasi juga bisa bermasalah secara regulasi. Jika terjadi kecelakaan, aspek keselamatan kendaraan bisa jadi sorotan. Dampaknya bukan cuma soal kendaraan, tapi juga keselamatan pengemudi dan pengguna jalan lain.

Baca Juga :  Tips Memilih Velg Mobil yang Tepat untuk Kendaraan Anda

Menggunakan ban tanpa sertifikasi memang terlihat menguntungkan di awal, tapi risikonya jauh lebih besar dibanding penghematan harga. Keselamatan berkendara sangat bergantung pada kualitas komponen yang bersentuhan langsung dengan jalan. Memilih ban yang tepat berarti menjaga kendali, kenyamanan, dan rasa aman setiap perjalanan. Pada akhirnya, murah di harga gak selalu sebanding dengan mahalnya risiko yang harus ditanggung. (del)