Esamesta.com, Liga Italia – Lampu-lampu di Allianz Stadium menyala temaram, seolah menunggu babak baru dimulai. Di ruang konferensi yang megah, Luciano Spalletti berdiri dengan senyum tenang, mengenakan jas hitam khas Italia. Di hadapannya terpampang logo besar Juventus klub yang kini mempercayakan masa depannya pada tangan sang maestro.
Spalletti resmi diumumkan sebagai pelatih kepala baru Juventus pada Minggu 12 Oktober 2025. Mantan juru taktik Napoli dan Timnas Italia itu dikontrak hingga Juni 2026, dengan opsi perpanjangan bila mampu membawa Bianconeri kembali ke Liga Champions musim depan. Tak ada janji muluk. Hanya satu pesan dari manajemen: “Buat Juventus hidup lagi.”
Di sisi lain, Igor Tudor harus menelan pahit. Delapan laga tanpa kemenangan cukup untuk mengakhiri petualangannya di Turin. Juventus butuh arah baru, dan mereka percaya Spalletti punya kompas yang tepat.
Dari Napoli ke Turin: Jejak Emas Sang Maestro
Nama Luciano Spalletti bukan sekadar pelatih. Ia adalah sosok yang mengubah wajah Napoli menjadi tim paling mematikan di Italia, menghadirkan gelar Serie A 2022/2023 setelah penantian 33 tahun. Sebelum itu, ia dua kali mengantar AS Roma meraih Coppa Italia (2006/2007 dan 2007/2008), serta membawa Zenit St. Petersburg menjuarai Liga Rusia di tahun 2010 dan 2012.
Rekam jejaknya mencerminkan satu hal: keindahan sepak bola yang lahir dari kerja keras dan disiplin. Juventus tahu, mereka tak hanya mendatangkan pelatih—mereka memanggil seorang ideolog.
“Kami sangat senang menyambut pelatih dengan pengalaman dan karakter seperti Spalletti ke dalam keluarga Bianconeri. Selamat datang dan semoga sukses, pelatih!” demikian bunyi pernyataan resmi klub.
Turin kembali bergairah. Media lokal menulis, “Era baru telah dimulai, dan Juventus memilih untuk percaya.”
Tantangan: Menyusun Ulang DNA Juventus
Namun Spalletti tahu, tugasnya tak semudah mengatur formasi di papan taktik. Juventus bukan sekadar tim, melainkan institusi dengan sejarah dan ego besar. Dalam beberapa musim terakhir, identitas mereka kabur—antara pragmatisme yang membosankan dan hasil yang mengecewakan.
Spalletti datang membawa pendekatan berbeda: penguasaan bola, pressing cepat, dan kreativitas dalam transisi. Ia ingin Juventus bermain dengan kendali, bukan sekadar bertahan. “Tim ini harus membuat lawan takut lagi,” katanya dalam sesi perkenalan.
Di tempat latihan Continassa, aura baru sudah terasa. Pemain muda seperti Kenan Yildiz dan Samuel Iling-Junior tampak bersemangat, sementara pemain senior seperti Danilo dan Locatelli menyambut dengan hormat. Semua tahu, Spalletti bukan pelatih yang banyak bicara — tapi tindakannya biasanya berbicara lebih keras dari kata-kata.
Turin Menanti Kemenangan Pertama
Debut Spalletti diperkirakan akan berlangsung pekan depan, laga kandang melawan tim papan tengah Serie A. Fans sudah menyiapkan spanduk besar bertuliskan: “Benvenuto, Mister!”
Di kafe-kafe sekitar Porta Nuova, pembicaraan tentang Juventus kembali menggema, sesuatu yang sudah lama hilang sejak era Allegri berakhir.
Juventus sedang berada di titik balik. Setelah bertahun-tahun tenggelam dalam kabut kontroversi dan ketidakkonsistenan, Spalletti datang seperti obor kecil di tengah gelap. Ia bukan penyelamat dalam arti romantik, tapi arsitek yang paham cara membangun ulang reruntuhan.
Jika semua berjalan sesuai rencana, musim depan Turin mungkin akan kembali bersinar. Dan kali ini, cahayanya bisa saja datang dari tangan dingin seorang pria berkepala plontos yang selalu percaya pada keindahan permainan sederhana: sepak bola yang dikuasai dengan otak dan hati. (sam)







