Esamesta.com, Piala Dunia – Kesuksesan Maroko di Piala Dunia 2026 tidak lagi dianggap sebagai kejutan, melainkan hasil dari investasi jangka panjang yang dilakukan sejak pembangunan akademi sepak bola pada tahun 2009 dan penguatan pemain dari kalangan diaspora. Proses ini telah membawa tim berjuluk Atlas Lions menjadi salah satu pesaing utama di panggung dunia.
Perjalanan Maroko juga sejalan dengan keyakinan legenda sepak bola Brasil, Pelé, bahwa suatu saat nanti akan ada tim Afrika yang mampu bersaing hingga menjadi juara dunia. Meskipun prediksi pertamanya meleset, ia tetap yakin bahwa pencapaian tersebut dapat terwujud pada Piala Dunia 2010. Namun, ramalan itu belum menjadi kenyataan. Pencapaian terbaik tim Afrika hanya mencapai perempat final, seperti Kamerun (1990), Senegal (2002), dan Ghana (2010).
Investasi besar-besaran yang dilakukan oleh Maroko mulai menunjukkan hasil. Pada tahun 2009, negara ini membangun sebuah akademi dan kompleks pelatihan senilai 65 juta dolar. Selain itu, rekrutan pemain dari diaspora seperti Achraf Hakimi dan Brahim Diaz yang lahir di Spanyol turut berkontribusi dalam meningkatkan kualitas tim.
Maroko kembali tampil di Piala Dunia setelah sekian lama absen. Setelah 20 tahun melewatkan lima edisi, mereka akhirnya kembali merasakan Piala Dunia di Prancis pada 2018. Meski penampilan mereka masih belum meyakinkan, di edisi berikutnya di Qatar, Maroko tampil lebih kuat dan terarah hingga berhasil melangkah ke semifinal.
Pencapaian ini membuat Walid Regragui, pelatih Maroko, percaya bahwa tim Afrika akan mampu memenangkan Piala Dunia dalam 15-20 tahun ke depan. Ia menegaskan bahwa generasi muda Maroko kini memiliki sepak bola Piala Dunia dalam DNA mereka.
Momentum Perkembangan Sepak Bola Afrika
Momentum perkembangan sepak bola Afrika semakin kuat dengan penambahan kuota peserta Piala Dunia 2026 dari 32 menjadi 48. Dari lima wakil Afrika pada Piala Dunia 2022, jumlah ini akan meningkat menjadi sembilan di 2026. Hal ini memberikan kepercayaan diri bagi Maroko dan tim-tim Afrika lainnya untuk menunjukkan daya saing mereka di ajang empat tahunan ini.
Buktinya, dari 10 wakil Afrika di fase grup Piala Dunia 2026, hanya satu yang gagal melangkah ke fase gugur, yakni Tunisia. Meskipun beberapa tim mengalami kegagalan di babak 32 dan 16 besar, Maroko menunjukkan kemampuan yang lebih matang.
Pelatih Maroko, Mohamed Ouahbi, menyatakan bahwa tim ini bukan lagi kejutan. “Ketika orang berbicara tentang Maroko, mereka berbicara tentang pesaing sejati, negara sepak bola besar,” ujarnya.
Kesempatan Menulis Sejarah Baru
Di Piala Dunia 2026, Maroko berjalan dengan tujuan yang jelas: menjadi yang terbaik dari wakil Afrika bahkan di hadapan dunia. Mereka tercatat sebagai tim Afrika pertama yang lolos ke perempat final secara berturut-turut. Di babak perempat final, Maroko akan menghadapi Prancis, yang sebelumnya mengalahkan mereka di semifinal Piala Dunia 2022 dengan skor 2-1.
Ini menjadi kesempatan besar bagi Maroko untuk melanjutkan proyek sepak bola yang telah dibangun selama bertahun-tahun. “Ini baru permulaan dan saya harap kami bisa terus meraih prestasi serupa di Piala Dunia selama bertahun-tahun mendatang,” ujar Ouahbi.
Kesuksesan Maroko tidak terjadi dalam semalam. Semua berawal dari investasi jangka panjang yang didukung penuh oleh Raja Mohammed VI terhadap pembangunan sepak bola nasional. “Semua yang terjadi saat ini di sepak bola Maroko adalah berkat Mohammed VI. Dia telah banyak berinvestasi dalam beberapa tahun terakhir, terutama akademi ini,” tutupnya.
Maroko kini akan tampil di babak perempat final setelah mengalahkan Belanda dan Kanada. Laga melawan Prancis dapat menjadi arena balas dendam atas hasil semifinal edisi sebelumnya. Keberhasilan Maroko melangkah sejauh ini dan cara mereka memenangkan pertandingan telah diprediksi sebelumnya oleh Hamid Anwar dari konten kreator @analiskampungsebelah.
Pertandingan perempat final Piala Dunia 2026 antara Prancis vs Maroko akan berlangsung di Stadion Boston pada Jumat (10/7/2026) pukul 03.00 WIB. (sam)








Komentar