Esamesta.com, Hobi – Padel, sebuah olahraga raket yang sedang viral di kalangan selebritas Indonesia, mulai menarik perhatian banyak orang. Banyak yang bertanya: apa sebenarnya perbedaan antara padel dan tenis? Meski keduanya tampak mirip karena sama-sama menggunakan raket, bola, dan net, keduanya memiliki perbedaan mendasar dari segi teknik, lapangan, hingga pengalaman bermain.
Padel berasal dari Meksiko dan kini populer di Eropa serta Timur Tengah, sebelum akhirnya menyebar ke Asia termasuk Indonesia. Berbeda dengan tenis yang mengutamakan kecepatan dan kekuatan pukulan, padel lebih menekankan pada strategi dan refleks cepat. Lapangannya lebih kecil, bola memantul ke dinding seperti squash, dan raketnya tidak bertali melainkan padat berlubang. Hal ini membuat permainan terasa lebih dinamis dan mudah diakses oleh pemula.
Fokus pada Sosialisasi dan Kesenangan
Jika tenis menonjolkan aspek kompetitif dan teknik tinggi, padel justru mengutamakan unsur sosial. Biasanya dimainkan dalam bentuk ganda (dua lawan dua), olahraga ini menjadi ajang bersosialisasi sekaligus rekreasi. Itulah sebabnya banyak selebritas, influencer, hingga pengusaha muda menjadikan padel sebagai bagian dari gaya hidup baru mereka.
“Padel itu fun, nggak harus jago tapi tetap seru. Semua orang bisa ikut main,” ujar seorang pemain padel di Bogor yang rutin bermain tiap akhir pekan.
Perbedaan Fasilitas dan Aksesibilitas
Dari sisi fasilitas, perbedaan antara padel dan tenis cukup mencolok. Lapangan tenis membutuhkan area luas dan perawatan mahal, sedangkan lapangan padel berukuran lebih kecil dan bisa dibangun di area terbatas seperti kompleks perumahan, hotel, atau sport club. Inilah yang membuat padel lebih mudah berkembang di kota-kota padat seperti Bogor, Jakarta, dan Bandung. Beberapa tempat bahkan menggabungkannya dengan kafe dan area nongkrong, menjadikannya simbol “olahraga gaya hidup urban.”
Teknik dan Keuntungan Fisik
Secara teknis, bola padel memiliki tekanan udara lebih rendah dibanding bola tenis, sehingga pantulannya lebih lambat. Hal ini membuat permainan terasa lebih santai dan inklusif. Para pemain bisa menikmati ritme permainan tanpa perlu stamina tinggi seperti dalam tenis kompetitif. Meski begitu, padel tetap memberikan manfaat fisik besar karena melibatkan gerakan cepat, koordinasi mata-tangan, serta kelincahan tubuh.
Tenis Tetap Jadi Simbol Olahraga Prestasi
Namun bagi pecinta olahraga klasik, tenis tetap memiliki tempat tersendiri. Dengan sejarah panjang dan turnamen prestisius seperti Wimbledon atau US Open, tenis dianggap olahraga berkelas dan penuh gengsi. Sementara padel, meski masih baru, justru menawarkan kesegaran: ringan, sosial, dan sangat Instagrammable. Tak heran jika generasi muda lebih cepat jatuh cinta pada padel, terutama karena mudah dimainkan bersama teman dan cepat viral di media sosial.
Tren 2025: Padel dan Tenis Menjadi Pelengkap
Melihat tren 2025, para pengamat olahraga meyakini bahwa padel dan tenis tidak saling menggantikan, tetapi saling melengkapi. Padel menjadi pintu masuk bagi masyarakat luas untuk menikmati olahraga raket dengan cara yang lebih fun, sementara tenis tetap bertahan sebagai simbol olahraga prestasi dan profesionalisme. Di Bogor dan sekitarnya, sejumlah komunitas padel bahkan mulai mengadakan turnamen mini untuk memperkenalkan olahraga ini secara lebih luas.
Potensi Padel sebagai Wajah Baru Olahraga Rekreasi
Dengan popularitas yang kian meningkat, padel berpotensi menjadi “wajah baru” olahraga rekreasi di Indonesia. Dari sekadar tren selebritas, kini ia mulai berkembang menjadi budaya olahraga perkotaan. Jadi, baik Anda penggemar tenis klasik atau pencinta padel modern — keduanya tetap memberi satu pesan yang sama: olahraga kini tak lagi sekadar soal kompetisi, tapi juga tentang gaya hidup dan koneksi sosial. (del)







