Esamesta.com – Kucing dan anjing sering kali digambarkan sebagai dua hewan peliharaan yang sulit beradaptasi satu sama lain. Meski terlihat lucu atau bahkan menyebalkan, sebenarnya hubungan antara keduanya tidak sepenuhnya didasari oleh rasa benci. Faktor-faktor seperti perbedaan naluri, bahasa tubuh, hingga cara komunikasi memengaruhi interaksi mereka. Berikut ini adalah beberapa alasan ilmiah mengapa kucing dan anjing sering kali tampak sulit akur.
Perbedaan Bahasa Tubuh dan Cara Komunikasi
Kucing dan anjing memiliki bahasa tubuh yang sangat berbeda, sehingga keduanya kerap menafsirkan perilaku satu sama lain dengan cara yang keliru. Contohnya, anjing akan mengibaskan ekornya untuk menandakan kegembiraan, namun bagi kucing gerakan seperti itu justru diartikan sebagai kemarahan atau bentuk ancaman.
Cara keduanya menyapa juga saling bertolak belakang. Anjing cenderung mendekat dengan cepat, sedangkan kucing lebih menyukai pendekatan yang tenang dan perlahan. Pada saat ada anjing yang berlari ke kucing, maka hal itu kerap dianggap sebagai serangan, bukan sapaan. Perbedaan ini bisa menyebabkan ketegangan dalam interaksi awal antara keduanya.
Naluri Alami sebagai Predator dan Mangsa

Secara evolusioner, anjing memiliki naluri berburu yang sangat kuat, sedangkan kucing cenderung memiliki sifat defensif terhadap setiap ancaman yang ada. Gerakan cepat dan gesit yang dilakukan kucing kerap memicu insting berburu pada anjing, sehingga membuatnya jadi ingin terus mengejar tanpa niat menyerang secara nyata.
Naluri dasar inilah yang kerap membuat interaksi pertama antara kucing dan anjing menjadi sulit terbentuk. Oleh karena itu, dibutuhkan waktu dan pembiasaan agar kedua hewan tersebut bisa beradaptasi. Dengan pelatihan yang tepat, anjing pun akan menekan naluri mengejarnya, sementara kucing bisa merasa lebih aman dan percaya di sekitar anjing.
Perbedaan Wilayah dan Dominasi

Kucing dikenal sebagai hewan yang sangat teritorial, sehingga mereka merasa memiliki dan melindungi ruang pribadi yang memang dianggap aman. Pada saat anjing memasuki wilayah tersebut, maka kucing akan secara otomatis merasa terancam dan kerap menunjukkan perilaku agresif untuk bisa mempertahankan wilayahnya.
Bukan hanya soal wilayah, namun kedua hewan ini juga memiliki cara berbeda untuk menunjukkan dominasi. Anjing cenderung ingin menjadi pemimpin kelompok, sedangkan kucing kerap menunjukkan kekuasaan melalui kontrol area dan tatapan. Pada saat keduanya berusaha mempertahankan posisi, maka gesekan pun kerap tidak terhindarkan.
Pengalaman Buruk di Masa Lalu

Seperti halnya manusia, hewan juga bisa membentuk persepsi dari pengalaman masa lalu yang kurang mengenakkan. Kucing yang pernah dikejar atau digigit anjing akan terus menyimpan rasa takut dan kewaspadaan tinggi terhadap spesies tersebut.
Memperkenalkan kembali kedua hewan yang memang pernah memiliki pengalaman negatif jelas memerlukan waktu dan kesabaran. Lingkungan yang aman dan positif harus diciptakan agar keduanya bisa belajar menghapus trauma lama dan membangun hubungan yang lebih damai.
Kesimpulan
Kucing dan anjing sebetulnya tidak benar-benar menjadi musuh alami. Mereka hanya memiliki cara pandang dan proses komunikasi yang berbeda. Jika pemiliknya paham alasan di balik perilaku keduanya, maka proses adaptasi pun bisa berjalan dengan lebih mudah dan harmonis. Ketidakakuran mereka bukanlah takdir, melainkan tantangan yang dapat diatasi dengan penuh kasih sayang! (del)







