Film Baru George Clooney “In Love” Dihiasi Kontroversi

Esamesta.com, Film – Film terbaru George Clooney berjudul In Love telah memicu perdebatan besar sebelum proses syuting bahkan dimulai. Film ini akan mengangkat tema bantuan bvn*h d1r!, sebuah topik yang dianggap sensitif dan menimbulkan kekhawatiran terkait dampaknya pada masyarakat, terutama bagi orang-orang yang rentan secara mental maupun emosional.

Salah satu suara paling keras datang dari Dr. Ramona Coelho, seorang dokter asal Kanada yang pernah merawat ayahnya yang meninggal akibat demensia. Ia menilai film tersebut berpotensi meromantisasi kematian dan mengubah penderitaan menjadi hiburan. Menurutnya, Clooney justru memuliakan tindakan bunuh diri dengan bungkus kisah cinta.

Adaptasi dari Memoar Amy Bloom

Film In Love diadaptasi dari memoar Amy Bloom, yang menceritakan keputusan suaminya untuk mengakhiri hidup setelah didiagnosis mengidap Alzheimer stadium awal. Clooney akan berperan sebagai sang suami, sedangkan Amy Bloom akan diperankan oleh Annette Bening.

Sebagian orang menganggap kisah ini sebagai potret cinta sejati yang menyentuh dan penuh penghormatan terhadap pilihan hidup seseorang. Namun, banyak pula yang menilai film tersebut telah melangkah terlalu jauh.

Peringatan dari Dokter Kanada

Dalam wawancara dengan Daily Mail, Dr. Ramona memperingatkan bahwa penggambaran seperti ini dapat mendorong penularan bunuh diri, terutama di kalangan orang yang sedang sakit atau takut kehilangan kendali atas hidupnya. Ia menilai Hollywood memiliki tanggung jawab moral besar terhadap dampak cerita yang mereka sebarkan.

Baca Juga :  Cara mendapatkan Smartphone & Pulsa dari aplikasi SHAREit

“Jika George Clooney menggambarkan kematian sebagai sesuatu yang indah dan bermartabat, apa pesan yang akan diterima oleh orang-orang lanjut usia atau penyandang disabilitas?” ujarnya. Ia mengingatkan bahwa media memiliki kekuatan besar dalam membentuk persepsi masyarakat, terutama bila selebritas besar terlibat.

Perbandingan dengan Kematian Robin Williams

Ramona membandingkan potensi dampaknya dengan peningkatan angka bunuh diri setelah kematian Robin Williams, yang kala itu banyak dikaitkan dengan pemberitaan berlebihan. Ia khawatir film ini bisa menormalisasi tindakan yang seharusnya tidak dianggap wajar.

Meski pihak produksi Smokehouse Pictures belum memberikan tanggapan resmi, para kritikus mendesak agar proyek ini ditinjau ulang. Sementara itu, pendukung film mengklaim bahwa kisah ini akan digarap dengan penuh empati dan sensitivitas, bukan sekadar sensasi.

Pandangan Berakar dari Pengalaman Pribadi

Bagi Ramona, persoalan ini bukan soal seni, tetapi soal tanggung jawab moral. Ia menegaskan, “Kita harus mengajarkan orang bagaimana hidup, bukan bagaimana mati.”

Baca Juga :  Cara mendaftar & menggunakan Wallet ImToken

Pandangan Ramona berakar dari pengalaman pribadinya. Ia merawat sang ayah, Kevin Coelho, yang hidup dengan demensia hingga akhir hayatnya. Meski kehilangan banyak ingatan, ayahnya tetap mampu menikmati hal-hal kecil dalam hidup, seperti pepohonan di halaman rumah dan kebersamaan keluarga.

“Ia meninggal secara alami, dikelilingi cinta,” kenangnya. Ramona menilai gambaran Hollywood tentang demensia sering kali terlalu gelap, seolah hidup dengan kondisi itu tidak lagi bermakna. “Mengatakan bahwa seseorang lebih baik mati daripada hidup dengan demensia adalah hal yang kejam,” ujarnya tegas.

Perdebatan tentang Euthanasia

Kontroversi In Love juga kembali membuka perdebatan tentang aturan euthanasia dan bantuan kematian di Amerika Utara. Kanada telah melegalkan Medical Assistance in Dying (MAiD) sejak 2016, namun kebijakan itu kini dikritik karena dinilai terlalu longgar dan berisiko bagi kelompok rentan.

Sebagai anggota Komite Peninjau Kematian MAiD Ontario, Ramona mengaku melihat banyak kasus di mana pasien disetujui untuk euthanasia hanya karena ketakutan, bukan karena tidak ada harapan medis. Ia menilai sistem tersebut gagal menyediakan dukungan emosional dan perawatan paliatif yang memadai.

“Ketika kematian menjadi solusi mudah, masyarakat kehilangan empati,” katanya. “Kalau kebutuhan orang dengan demensia dipenuhi, mereka masih bisa hidup dengan kualitas yang baik.”

Baca Juga :  5 Danau Menawan di Merangin, Jambi yang Wajib Dikunjungi, Danau Pauh Favorit

Kritik dari Kelompok Advokasi Penyandang Disabilitas

Kritik juga datang dari kelompok advokasi penyandang disabilitas. Ian McIntosh, direktur eksekutif Not Dead Yet, menyebut film Clooney itu sebagai “kisah pembunuhan penyandang disabilitas dengan nama yang berbeda”. Ia menilai Hollywood terus menggambarkan kehidupan disabilitas sebagai sesuatu yang tragis dan tak layak dijalani.

“Film seperti Million Dollar Baby dan Me Before You sudah melakukan hal yang sama, menampilkan bunuh diri sebagai tindakan mulia bagi mereka yang cacat. In Love hanya mengulang pola itu,” ujarnya.

Ramona pun menambahkan bahwa menggambarkan euthanasia sebagai bentuk cinta justru bisa menekan orang sakit untuk merasa bahwa mati adalah satu-satunya pilihan bermartabat. “Apa yang tampak seperti cinta, bisa jadi bentuk paksaan,” katanya.

Baginya, kisah sejati yang layak diangkat bukan tentang bagaimana seseorang mati, tetapi bagaimana seseorang memilih untuk tetap hidup.

“Ayah saya tidak bisa mengingat nama, tapi ia ingat cinta. Ia melihat pepohonan. Ia menemukan kebahagiaan sederhana. Itulah martabat yang sebenarnya,” tutupnya. (del)