Esamesta.com – Musim penghujan sering kali menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh para petani, terutama untuk menanam jagung serta padi di ladang. Selain itu, petani yang memiliki sawah tadahan juga akan mulai melakukan pembajakan guna mempersiapkan penanaman padi. Saat musim hujan, air mulai tergenang di setiap petak sawah, sehingga menyediakan kebutuhan air yang cukup untuk tanaman.
Namun, meskipun musim hujan memberikan kelimpahan air, ada tantangan tersendiri yang dihadapi oleh petani yang membudidayakan cabai, tomat, serta sayuran buah lainnya. Jika curah hujan berlebihan, maka akan terjadi kerontokan bunga serta buah. Kondisi ini sangat merugikan karena bunga yang rontok berarti berkurangnya peluang terbentuknya buah, sehingga hasil panen pun menurun.
Kerontokan bunga pada musim hujan terjadi karena beberapa faktor yang saling berkaitan. Salah satunya adalah terganggunya proses penyerbukan. Penyerbukan merupakan proses menempelnya serbuk sari ke kepala putik sehingga dapat terjadi pembuahan dan pembentukan buah. Pada musim hujan, kelembapan udara yang tinggi membuat serbuk sari mudah rusak atau sulit menempel, sehingga peluang keberhasilan penyerbukan berkurang.
Selain itu, hujan deras yang mengguyur langsung bunga dapat merontokkan kelopak atau putik yang masih lemah. Kelebihan air di sekitar perakaran juga sering memicu gangguan fisiologis pada tanaman. Akar kesulitan menyerap unsur hara penting seperti kalsium dan boron, padahal kedua unsur tersebut sangat dibutuhkan untuk pembentukan bunga dan buah.
Jika kekurangan, bunga menjadi mudah layu dan akhirnya rontok. Perlu dipahami juga bahwa merontokkan bunga merupakan salah satu mekanisme alami tanaman ketika kekurangan energi. Dalam kondisi stres, tanaman lebih memilih mengurangi jumlah bunga untuk mempertahankan pertumbuhan vegetatifnya.
Tidak hanya itu, kelembapan tinggi pada musim hujan juga mendorong perkembangan penyakit jamur dan bakteri. Serangan pada bunga dan buah muda semakin memperparah tingkat kerontokan. Semua faktor inilah yang menjadikan musim hujan sebagai periode kritis bagi tanaman, di mana petani harus lebih cermat dalam melakukan perawatan.
Cara Pencegahan Kerontokan Bunga di Musim Penghujan
Berikut beberapa cara pencegahan kerontokan bunga di musim penghujan:
- Kurangi penggunaan pupuk yang mengandung Nitrogen
Nitrogen (N) merupakan unsur hara makro yang sangat penting bagi tanaman karena berfungsi merangsang pertumbuhan vegetatif, seperti batang, cabang, dan daun. Namun, di musim penghujan penggunaan pupuk yang kaya nitrogen perlu dikurangi. Pasalnya, kadar air yang berlimpah membuat nitrogen dalam tanah lebih mudah larut dan cepat diserap tanaman.
Jika jumlahnya berlebihan, tanaman akan tumbuh terlalu subur dengan daun yang lebat, tetapi justru mengorbankan pembentukan bunga dan buah. Kondisi ini menyebabkan energi tanaman lebih banyak terserap untuk pertumbuhan vegetatif, sehingga bunga yang terbentuk menjadi lemah, mudah layu, bahkan rontok sebelum sempat berkembang menjadi buah.
Selain itu, kelebihan nitrogen juga membuat jaringan tanaman lebih lunak dan rentan terserang penyakit, terutama jamur yang berkembang pesat di musim hujan. Akibatnya, bunga semakin sulit bertahan. Oleh karena itu, petani perlu menyesuaikan dosis pupuk nitrogen dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan.
Pada fase generatif atau fase berbunga, sebaiknya pupuk yang diberikan lebih menekankan pada unsur fosfor (P) dan kalium (K) yang berperan penting dalam pembentukan bunga, pembuahan, serta memperkuat daya tahan tanaman. Dengan cara ini, energi tanaman bisa lebih terfokus untuk menjaga bunga tetap segar dan mengurangi potensi kerontokan.
- Penggunaan Kalsium secara rutin
Kalsium (Ca) merupakan salah satu unsur hara penting yang berperan besar dalam menjaga kekuatan dinding sel tanaman, termasuk pada jaringan bunga dan buah muda. Di musim penghujan, keberadaan kalsium di dalam tanah sering kali berkurang ketersediaannya.
Hal ini terjadi karena kelebihan air membuat kalsium mudah tercuci (leaching), sehingga tanaman sulit menyerapnya secara optimal. Akibatnya, bunga menjadi rapuh, mudah layu, dan cepat rontok sebelum sempat membentuk buah. Kekurangan kalsium juga berdampak pada gangguan fisiologis, misalnya ujung bunga atau buah muda menghitam (blossom end rot pada cabai dan tomat), serta pertumbuhan generatif yang terhambat.
Oleh sebab itu, petani perlu melakukan penambahan kalsium secara rutin, baik melalui aplikasi pupuk kalsium yang dikocorkan ke tanah maupun disemprotkan langsung ke daun dan bunga (foliar). Pemberian kalsium secara teratur membantu memperkuat jaringan bunga, meningkatkan kualitas penyerbukan, serta memastikan bunga yang terbentuk lebih tahan terhadap kondisi cuaca lembap.
Selain itu, kalsium juga berfungsi menyeimbangkan serapan nitrogen, sehingga pertumbuhan vegetatif tidak terlalu dominan dan energi tanaman tetap difokuskan untuk mempertahankan bunga serta membentuk buah. Aplikasi kalsium bisa dilakukan 2 minggu sekali, dan bisa dirapatkan sesuai kondisi.
- Gunakan Plant Regulator
Selain pengaturan pupuk dan penambahan unsur hara, penggunaan plant regulator atau zat pengatur tumbuh (ZPT) juga dapat membantu mencegah kerontokan bunga di musim penghujan. Plant regulator adalah senyawa alami maupun sintetis yang berfungsi mengatur proses fisiologis tanaman, termasuk pembungaan, pembuahan, dan pertumbuhan vegetatif.
Dengan dosis yang tepat, ZPT mampu menyeimbangkan metabolisme tanaman, sehingga energi tidak hanya terserap untuk pertumbuhan daun, tetapi juga dialokasikan untuk mempertahankan bunga dan buah muda. Di musim hujan, tanaman sering mengalami stres akibat kelembapan tinggi, kelebihan air, atau minimnya cahaya matahari. Kondisi ini membuat produksi hormon alami tanaman terganggu.
Penggunaan plant regulator bisa membantu menambah atau menstimulasi hormon tertentu, seperti auksin, giberelin, atau sitokinin, yang berperan penting dalam proses pembungaan dan pembentukan buah. Misalnya, auksin dapat memperkuat tangkai bunga agar tidak mudah rontok, sementara sitokinin membantu mempertahankan bunga tetap segar lebih lama.
Namun, penggunaan plant regulator harus dilakukan dengan hati-hati. Dosis yang terlalu tinggi justru bisa menimbulkan efek sebaliknya, seperti pertumbuhan abnormal atau bahkan kerusakan pada bunga. Karena itu, penting bagi petani untuk mengikuti anjuran dosis pada label produk atau berdasarkan rekomendasi penyuluh pertanian. Jika digunakan secara tepat, plant regulator akan menjadi salah satu strategi efektif untuk menekan angka kerontokan bunga dan meningkatkan peluang terbentuknya buah meskipun cuaca tidak mendukung. (sam)







