Manfaat Olahraga Panjat untuk Anak, Balita Bisa Ikut!

Esamesta.com – Olahraga panjat semakin diminati oleh masyarakat, terutama dengan prestasi atlet Indonesia yang semakin menanjak di kancah internasional. Hal ini memicu peningkatan jumlah climbing gym di Jakarta dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran climbing gym ini tidak hanya sebagai tempat latihan tetapi juga menjadi alternatif hiburan bagi pengunjung, terutama di dalam mal atau pusat perbelanjaan.

Olahraga panjat bisa dilakukan sebagai aktivitas rekreasi sekaligus sarana latihan, termasuk untuk anak-anak. Bahkan, anak berusia di bawah lima tahun (balita) bisa ikut berpartisipasi, asalkan dalam pengawasan dan pendampingan profesional. Salah satu climbing gym yang menyediakan fasilitas khusus untuk balita adalah Climb On Indoor Climbing Gym Jakarta. Pada 2025, Climb On Indoor Climbing Gym mengadakan “Toddler Climb On Climbing Contest” yang khusus diperuntukkan bagi anak usia 2,5–5 tahun.

Dian Tri Anggraeni, pemilik Climb On Indoor Climbing Gym, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan olahraga panjat sejak usia dini melalui pendekatan yang aman, menyenangkan, dan sesuai tahapan perkembangan anak. Kegiatan ini diikuti oleh 21 anak usia 2,5–5 tahun, yang didampingi dan dilindungi sesuai kemampuan masing-masing peserta.

Baca Juga :  Mengganti Kartu ATM Magnetic ke ATM Chip

Menurut Dian, melalui aktivitas ini, anak diajak untuk meningkatkan keberanian dan rasa percaya diri. Selain itu, mereka juga dilatih untuk menghadapi tantangan dan melakukan problem solving sederhana. Kegiatan panjat juga membentuk karakter positif melalui proses mencoba dan belajar, serta memperkuat mental anak dalam menghadapi tantangan baru. Hal ini juga mendukung perkembangan kecerdasan emosional anak.

Keselamatan menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan kegiatan ini. Anak-anak didampingi langsung oleh belayer yang memiliki sertifikat lisensi South East Asia Climbing Federation (SEACF). Sistem pengamanan disesuaikan dengan usia dan kemampuan peserta. Climb On Indoor Climbing Gym juga memiliki banyak program unggulan, salah satunya adalah program pembinaan anak usia 2,5 tahun hingga 12 tahun dengan pendekatan inklusif, personal, dan berbasis kebutuhan individu.

Baca Juga :  Acer Perkenalkan Teknologi Layar 1000Hz di CES 2026

Program ini dirancang khusus untuk mendampingi anak dengan kebutuhan khusus seperti anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Setiap anak didampingi melalui pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan sensorik, tingkat fokus, serta ritme belajar masing-masing, menggunakan metode adaptif dan lingkungan yang aman.

“Dengan adanya program ini, diharapkan pengenalan panjat tebing tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi menjadi bagian dari proses pengembangan minat dan bakat anak sejak usia dini,” ujar Dian.

Dukungan masyarakat juga menjadi faktor penting dalam menjaga semangat kebersamaan, keberlanjutan komunitas, serta perkembangan olahraga panjat tebing di Indonesia, baik di tebing alam maupun di indoor climbing gym.

Orang tua salah satu peserta kontes, Yulanda Niagara, mengakui bahwa olahraga panjat melatih fisik sekaligus perkembangan mental. Anak akan terlatih untuk fokus, sabar, percaya diri, mampu memecahkan masalah, dan pantang menyerah. “Melalui kontes ini, anak-anak bisa merasakan pengalaman baru sekaligus menggali minat dan bakat awal anak,” katanya.

Baca Juga :  Cara Menggandakan Aplikasi Tanpa Aplikasi (MI Only)

Putrinya yang berusia 3,5 tahun menjadi salah satu peserta kontes. Ia berharap semoga kontes serupa dapat berlangsung agar anak aktif berolahraga sejak dini melalui kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat. “Sekaligus dapat meminimalkan penggunaan gadget saat liburan,” tambahnya.

Olahraga panjat menurutnya dapat membentuk kebiasaan hidup sehat dalam jangka panjang, baik secara fisik maupun mental. Hal itu mengingat putrinya yang lebih dewasa, berusia 8 tahun, sudah aktif berolahraga panjat sejak usia 5 tahun.

Harapannya, semoga olahraga panjat semakin populer, profesional, sehingga dapat melahirkan atlet berprestasi yang go global. “Semoga semakin populer, dapat berprestasi di seluruh kategori dari speed hingga boulder di kompetisi olahraga internasional,” imbuhnya. (dwi)