Esamesta.com, Bola – Sorak “Glory Glory Man United” menggema di bawah langit Anfield yang biasanya memerah oleh lagu “You’ll Never Walk Alone.” Tapi malam itu berbeda. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, suara pendukung Setan Merah lebih nyaring dari tuan rumah. Di pinggir lapangan, Ruben Amorim berdiri dengan tangan terangkat, menatap tribun tandang yang bergelombang merah. Matanya tak bisa menyembunyikan rasa puas bukan hanya karena menang, tapi karena cara timnya bertarung. Ia tahu, di stadion selegendaris Anfield, kemenangan bukan sekadar tiga poin. Ini tentang harga diri, sejarah, dan pembuktian.
Pada Minggu, 19 Oktober 2025, Manchester United menaklukkan Liverpool 2-1 di Anfield pada lanjutan Liga Inggris. Amorim yang baru beberapa bulan menukangi United akhirnya menorehkan kemenangan yang langsung menegaskan kehadirannya di panggung sepak bola Inggris. “Hari ini benar-benar luar biasa,” ujarnya dengan senyum lebar. “Semua hari spesial sebagai pelatih Manchester United, tapi kemenangan ini benar-benar luar biasa, melihat fans kami bernyanyi sepanjang laga, menghadapi juara bertahan di kandang mereka sendiri ini kemenangan untuk para suporter dan semangat tim.”
Ucapan itu bukan sekadar diplomasi seusai laga. Amorim hidup di momen itu melihat Harry Maguire menanduk bola ke gawang pada menit ke-84, mendengar tiang gawang Liverpool berdenting tiga kali menahan peluang Gakpo, dan menyaksikan para pemainnya merayakan kemenangan dengan genggaman tangan yang rapat. Ia tahu, ini bukan hanya kemenangan taktikal, tapi kemenangan emosional. Sebuah pertanda bahwa Manchester United sedang menemukan kembali napas lamanya berani, kompak, dan sedikit beruntung.
Tetap Tenang di Tengah Euforia
Namun Amorim tak ingin larut dalam pesta. “Kami akan menganalisis pertandingan ini sama seperti laga lainnya, sisi positif dan negatif,” katanya tenang. “Tapi buat saya, kebersamaan yang mereka tunjukkan di lapangan adalah hal yang paling spesial.” Pelatih asal Portugal itu menegaskan bahwa kemenangan atas Liverpool bukan alasan untuk jemawa. Justru, ia melihat malam di Anfield sebagai cermin untuk terus berkembang. “Kami bisa tampil lebih efisien, lebih tajam, tapi saya bangga pada semangat mereka.”
Di ruang ganti, para pemain tersenyum lebar, namun Amorim tetap memegang nada rendah disiplin yang membuatnya dihormati sejak masih di Sporting CP.
Keberuntungan juga Turut Bermain
Dalam wawancara yang sama, Amorim tak menutupi peran faktor keberuntungan. “Terkadang keberuntungan penting di sepak bola,” ujarnya. “Kami pernah main bagus tapi gagal mencetak gol. Hari ini, kami langsung mencetak gol di menit kedua. Dua kali Gakpo kena tiang itu momen yang mengubah arah pertandingan.” Pernyataannya menggambarkan pemahaman yang matang tentang sepak bola: bukan hanya strategi, tapi juga ritme takdir. Amorim tahu, setiap pelatih besar pernah berutang pada keberuntungan—dan malam itu, giliran dia yang diberkahi.
Maguire, Lammens, dan Diallo dapat Kredit Khusus
Dalam konferensi pers, Amorim tak lupa menyebut nama-nama kunci yang membuat kemenangan ini mungkin. “Mereka semua luar biasa malam ini,” tegasnya. “Harry Maguire, kiper muda Senne Lammens, Amad Diallo—mereka bekerja keras, saling mendukung, dan pantas mendapat kemenangan ini.” Gol cepat Bryan Mbeumo di menit kedua membuka jalan, sebelum sundulan Maguire di menit ke-84 memastikan kemenangan. Di antara dua momen itu, Manchester United menahan badai serangan Liverpool yang tiga kali membentur tiang gawang.
Dengan hasil ini, Manchester United bukan hanya meraih tiga poin penting, tapi juga menegaskan kebangkitan di bawah asuhan Amorim. Dari ruang ganti hingga tribun tandang, energi baru terasa mengalir. Amorim menutup malamnya dengan sederhana. Ia menepuk dada, melambaikan tangan ke suporter yang bernyanyi, lalu berjalan masuk ke lorong Anfield dengan senyum yang sulit disembunyikan. Di balik senyum itu, ada pesan tersirat: era baru Manchester United sedang dimulai. (sam)







