Esamesta.com, Bola – Pertandingan antara Persebaya Surabaya melawan PSIM Jogjakarta dalam laga pekan ke-18 Super League 2025/2026 menjadi momen penting bagi banyak pemain, termasuk Rachmat Irianto. Performa yang ditunjukkan oleh gelandang bertahan ini mencuri perhatian dan memberikan sinyal kuat bahwa ia layak kembali memperkuat Timnas Indonesia.
Persebaya Surabaya menutup pertandingan dengan kemenangan 3-0 atas PSIM Jogjakarta pada Minggu (25/1). Hasil ini tidak hanya membuktikan dominasi tim di babak kedua, tetapi juga menjadi panggung bagi Rachmat Irianto untuk menunjukkan kemampuannya.
Meskipun hanya bermain selama 28 menit, Rian tampil luar biasa. Ia masuk di babak kedua dan langsung memberi dampak signifikan lewat satu gol spektakuler. Aksi solo run panjangnya memecah kebuntuan sekaligus mengangkat atmosfer stadion.
Gol tersebut begitu istimewa hingga membuat pelatih Persebaya, Bernardo Tavares, memberi julukan unik kepada Rian. Pujian itu mencerminkan kekaguman sang pelatih terhadap kualitas teknis dan keberanian anak asuhnya.
“Kalau saya melihat gol ini hari ini dan saya belum pernah melihat Rian sebelumnya, saya akan bilang namanya adalah Rian Diego Armando Maradona,” ujar Bernardo Tavares.
Pernyataan ini langsung viral di kalangan Bonek dan pencinta sepak bola nasional. Yang membuat gol tersebut semakin menarik, Rian sejatinya bukan pemain menyerang. Dia berposisi sebagai gelandang bertahan dan baru masuk saat babak kedua dimulai.
Statistik yang Menjanjikan
Secara statistik, kontribusi Rachmat Irianto di laga ini sangat efisien dan nyaris sempurna. Dalam 28 menit bermain, dia mencatat expected goals (xG) 0,43 dan langsung mengonversinya menjadi satu gol.
Rian hanya melakukan satu percobaan tembakan dan semuanya tepat sasaran. Akurasi tembakannya mencapai 100 persen, menunjukkan ketenangan dan pengambilan keputusan yang matang.
Distribusi bolanya juga nyaris tanpa cela sepanjang laga. Dari empat umpan yang dilepaskan, semuanya sukses dengan akurasi umpan 100 persen.
Tak hanya menyerang, Rian tetap disiplin menjalankan tugas bertahan. Dia mencatat tiga intersep dan satu sapuan penting untuk menjaga keseimbangan tim.
Kecepatan dan Ketangguhan Fisik
Gol Rian menjadi pembeda karena lahir dari aksi individu yang jarang terlihat dari seorang gelandang bertahan. Dari sentuhan pertama hingga melepaskan tembakan, ia berlari sejauh 70 meter hanya dalam waktu sembilan detik.
Kecepatan larinya tercatat mencapai 28,33 km/jam. Catatan itu mempertegas kondisi fisik Rian yang prima dan daya jelajahnya yang luar biasa.
Aksi tersebut langsung disebut-sebut sebagai salah satu gol terbaik pekan ini di Super League 2025/2026. Bahkan tidak sedikit yang menilai gol itu layak masuk kandidat gol terbaik musim ini.
Peluang Kembalinya Rachmat Irianto ke Timnas Indonesia
Rapor apik Rachmat Irianto di laga ini memberi sinyal kuat kebangkitannya bersama Persebaya Surabaya. Konsistensi performa menjadi kunci penting bagi Rian untuk terus menjaga level permainan.
Jika mampu tampil stabil dan bebas cedera, peluang kembali ke Timnas Indonesia terbuka lebar. Terlebih, era kepelatihan baru di bawah John Herdman memberi harapan segar bagi pemain yang tampil konsisten di level klub.
Rian memiliki modal pengalaman, fleksibilitas posisi, dan karakter pekerja keras yang dibutuhkan tim nasional. Penampilan melawan PSIM menjadi pesan kuat ia masih layak diperhitungkan.
Bagi Persebaya Surabaya, Rachmat Irianto bukan sekadar pencetak gol, melainkan simbol energi dan determinasi tim. Sementara bagi Timnas Indonesia, rapor apik ini bisa menjadi awal cerita comeback yang dinanti banyak pencinta sepak bola nasional. (sam)







