Berapa Lama Masa Pakai Roller Motor Matik?

Esamesta.com, Otomotif – Komponen roller merupakan bagian penting dalam sistem transmisi otomatis yang memengaruhi kelancaran proses perpindahan rasio gigi pada motor matik. Beroperasi berdasarkan gaya sentrifugal, roller terdiri dari potongan logam berbentuk silinder yang dilapisi teflon. Komponen ini bergerak keluar masuk untuk menekan piringan katrol, sehingga memungkinkan motor berakselerasi sesuai dengan peningkatan putaran mesin.

Meskipun ukurannya kecil, beban kerja yang diterima oleh roller sangat berat karena harus menahan gesekan konstan di dalam ruang transmisi yang panas. Seiring waktu dan jarak tempuh, bentuk roller yang awalnya bulat sempurna akan mengalami keausan. Jika tidak segera diperhatikan, keausan ini dapat merusak kenyamanan berkendara serta efisiensi bahan bakar secara keseluruhan.

Estimasi Jarak Tempuh Ideal untuk Penggantian Berkala

Berdasarkan standar teknis dari mayoritas produsen sepeda motor, masa pakai optimal roller biasanya berada pada kisaran 10.000 hingga 12.000 kilometer. Angka ini umumnya sesuai dengan jadwal servis besar CVT yang kedua atau ketiga sejak motor baru keluar dari diler. Pada jarak tempuh tersebut, lapisan teflon yang melapisi inti logam mulai menipis akibat gesekan terus-menerus dengan dinding rumah roller.

Baca Juga :  5 Dampak Berbahaya Menggunakan Ban Tanpa Sertifikasi, Murah Tapi Berisiko Tinggi

Penggantian roller pada rentang jarak ini sangat disarankan untuk menjaga performa mesin tetap responsif dan konsumsi bahan bakar tetap irit. Jika penggunaan terus dipaksakan hingga melebihi 15.000 kilometer, risiko roller berubah bentuk menjadi peyang sangat tinggi. Kondisi roller yang tidak lagi bulat sempurna akan menghambat pergerakan piringan katrol, sehingga proses perpindahan tenaga menjadi tidak stabil dan terasa tersendat saat gas ditarik.

Gejala Teknis yang Menandai Keausan pada Rumah Transmisi

Salah satu indikasi nyata bahwa roller sudah mencapai batas usia pakainya adalah munculnya suara bising atau gemeretak dari bagian kiri belakang motor saat mesin dalam posisi stasioner. Suara ini muncul karena adanya celah antara roller yang sudah mengecil dengan dinding rumahnya, sehingga terjadi benturan kecil saat berputar. Selain suara, penurunan akselerasi pada putaran bawah atau atas juga menjadi tanda bahwa komponen ini sudah tidak mampu lagi bergerak secara presisi mengikuti gaya sentrifugal yang dihasilkan mesin.

Baca Juga :  Mobil Matik Rawan Rem Blong, Ini Penyebabnya

Secara teknis, roller yang sudah aus akan membuat motor terasa berat saat menanjak atau butuh waktu lebih lama untuk mencapai kecepatan tinggi. Hal ini terjadi karena roller tersangkut di jalur pergerakannya, sehingga rasio transmisi tidak dapat berubah secara halus. Jika dibiarkan terlalu lama, keausan ini tidak hanya menyerang roller itu sendiri, tetapi juga akan merusak jalur rumah roller (pulley) yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan dengan satu set roller baru.

Faktor Beban dan Gaya Berkendara Terhadap Durasi Pakai

Usia pakai roller tidak selalu tergantung pada angka di odometer, karena gaya berkendara memiliki pengaruh signifikan terhadap kecepatan tingkat keausan. Sering melakukan aksi “hentak gas” atau membawa beban muatan yang berlebih akan memberikan tekanan yang jauh lebih besar pada komponen ini. Panas berlebih yang dihasilkan dari gaya berkendara agresif dapat membuat lapisan pelindung roller lebih cepat mencair atau tergerus secara tidak merata.

Baca Juga :  Tips Memilih Velg Mobil yang Tepat untuk Kendaraan Anda

Kondisi kebersihan di dalam ruang CVT juga menjadi faktor penentu durasi pakai komponen silinder ini. Debu yang masuk dan bercampur dengan sisa pelumas dapat berubah menjadi pasta abrasif yang mempercepat pengikisan permukaan roller. Oleh karena itu, bagi motor yang sering digunakan untuk operasional harian di jalanan berdebu atau medan yang banyak tanjakan, pengecekan setiap 8.000 kilometer sangat penting dilakukan guna memastikan bentuk roller masih terjaga kebulatannya demi performa kendaraan yang maksimal. (dwi)